Minggu, 12 Juni 2016

Tanaman yang berkhasiat



TANAMAN KITOLOD

Tanaman Kitolod bukan termasuk tanaman langka. Kitolod tanpa disadari banyak tumbuh di sekitar kita tepatnya lebih banyak di pinggir selokan.  Tanaman kitolod ini berkhasiat menyembuhkan sakit mata sejenis katarak, tumor mata, mata minus. Kitolod mempunyai beberapa nama yaitu sebagai berikut :
Nama asing     :Star of betleham,Madam fate,Star flower
Nama ilmiah    :Isotoma Longiflora atau Laurentina longi flora
Nama lainnya  :Tolod,Kendali,Sangkong dan kerenjat.
 
 
B. Ciri – ciri tanaman kitolod
Dalam sejarah konon kitolod berasal dari benua Amerika yaitu, Amerika Serikat dan Amerika Selatan. Kitolod termasuk dalam family campanulaceae yang merupakan semak belukar atau tanaman berukuran kecil. Tanaman ini terdiri dari 60 – 70 genus dan sekitar 2000 spesies. Dibawah ini beberapa ciri – ciri tanaman kitolod.
1. Tinggi tanaman 50 cm
2. Batangnya bulat
3. Berkayu dan berwarna hijau
4. Daun berwarna hijau fan bergerigi
5. Merupakan daun tunggal
6. Lebar daun 2-3 cm
7. Panjang 5-15 cm
8. Bunga berbentuk lonceng dengan mahkota menyerupai bintang bertajuk lima dan berwarna putih
9. Buah berbentuk lonceng dan berwarna jikau
10. Akar tanaman merupakan akar tunggang

C. Daerah Penyebaran Tanaman Kitolod
Tanaman yang berasal dari Hindia Barat ini tumbuh liar di pinggir saluran air atau sungai, pematang sawah, sekitar pagar dan tempat-tempat lainnya yang lembab dan terbuka. Kitolod dapat ditemukan dari dataran rendah sampai 1.100 m dpl. Terna tegak, tinggi mencapai 60 cm, bercabang dari pangkalnya, bergetah putih yang rasanya tajam dan mengandung racun. Daun tunggal, duduk, bentuknya lanset, permukaan kasar, ujung runcing, pangkal menyempit, tepi melekuk ke dalam, bergigi sampai melekuk menyirip, Panjang daun 5-17 cm, lebar 2-3 cm, warnanya hijau, Bunganya tegak, tunggal, keluar dari ketiak daun, bertangkai panjang, mahkota berbentuk bintang berwarna putih. Buahnya berupa buah kotak berbentuk lonceng, merunduk, merekah menjadi dua ruang, berbiji banyak. Perbanyakan dengan biji, stek batang atau anakan.

D. Budidaya Kitolod
Sebelum kita memanfaatkan kitolod kita perlu mengetahui bagaimana cara pembudidayaannya. Tanaman ini sering terlihat diselokan atau tempat lembab lainnya. Terkesan sebagai tanaman yang tidak berguna. Kitolod ini sangat berkhasiat untuk penyembuhan gangguan mata rabun, katarak, minus dan plus Secara ilmiah tanaman ini mempunyai nama ilmiah Isotoma longiflora atau Laurentia longiflora. Tanaman yang berasal dari Hindia Barat ini tumbuh liar di pinggir saluran air atau sungai, pematang sawah, sekitar pagar dan tempat-tempat lainnya yang lembab dan terbuka.
Kitolod dapat ditemukan dari dataran rendah sampai 1.100 m dpl. Terna tegak, tinggi mencapai 60 cm, bercabang dari pangkalnya, bergetah putih yang rasanya tajam dan mengandung racun. Daun tunggal, duduk, bentuknya lanset, permukaan kasar, ujung runcing, pangkal menyempit, tepi melekuk ke dalam, bergigi sampai melekuk menyirip. Panjang daun 5-17 cm, lebar 2-3 cm, warnanya hijau. Bunganya tegak, tunggal, keluar dari ketiak daun, bertangkai panjang, mahkota berbentuk bintang berwarna putih. Buahnya berupa buah kotak berbentuk lonceng, merunduk, merekah menjadi dua ruang, berbiji banyak. Perbanyakan dengan biji, stek batang atau anakan.



METODOLOGI

A. Tempat dan Waktu Penelitian
Proses peracikan obat mata dari tanaman kitolod dilaksanakan di rumah penulis. Waktu pelaksanaanya pada bulan Februari 2012.

B. Bahan dan Alat
1. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
a. Bunga Kitolod.
Dalam pengertian ini bunga kitolod adalah bahan baku pembuatan obat mata.
b. Air
Air digunakan untuk mengencerkan getah bunga.
2. Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
a. Mangkok atau gelas
b. Sendok makan

C. Proses Pembuatan
Tabel pembuatan

Langkah-langkah meracik obat mata menggunakan kitolod:
1. Pemilihan bunga
Bunga yang digunakan dalam pengobatan adalah bunga yang masih segar dan belum lama dipetik. Cabut bunganya sampai pangkal akarnya, karena di dalam tangkainya banyak mengandung getah.

2. Pencucian
Bunga yang baru dipetik harus dicuci dahulu, ini supaya bunga terhindar dari hewan yang masuk di dalam bunga. Pencucian membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit .

3. Penghalusan
Pada proses ini, bunga kitolod yang sudah bersih akan dihaluskan sampai lembut. Penulis memanfaatkan alat yang sederhana agar masyarakat mudah untuk memahami dan mengikutinya. Penghalusan dilakukan menggunakan sendok makan.

4. Pencampuran
Bunga kitolod yang sudah dihaluskan harus dicampur dengan air hangat. Campur racikan menggunakan lepeh atau mangkok kecil. Setelah dicampur, racikan itu didiamkan sampai air terasa dingin.

5. Penyaringan
Penyaringan bertujuan untuk memisahkan sari bunga kitolod dengan ampasnya. Racikan yang sudah dibiarkan sampai dingin, sudah siap untuk disaring.

Langkah ini merupakan cara yang sederhana untuk menguji khasiat dari ramuan obat tersebut. Selain bertujuan untuk menguji khasiat dari ramuan obat tersebut, langkah ini diharapkan dapat diikuti oleh masyarakat untuk memanfaatkan obat alami dalam menyembuhkan penyakit dan tidak tergantung pada obat-obatan yang berbau kimia.


HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pengujian
Pengujian ini dilakukan untuk menguji seberapa ampuh ramuan yang terbuat dari bunga kitolod untuk menyembuhkan penyakit mata. Maka, penulis ingin menguji keampuhan obat tradisional ini.
Dalam pengujian ini bahan yang digunakan berupa bunga kitolod dan air. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pembaca menggunakanya. Adapun langkah-langkah pengujian obat tersebut adalah:Teteskan satu kali pada mata kiri dan kanan. Biasanya akan terasa perih, merah dan sesekali akan mengeluarkan air mata.Setelah itu mata dikedip-kedipkan dan diurut perlahan dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah. Dimulai dari ujung mata atau sudut luar mata ke arah telinga atau pelipis.
Perlu diperhatikan, celupan pertama pada mata rasanya agak perih. Setelah selesai tetesan mata yang ke tiga kali-nya (masing-masing mata). Segera mengaca. Jangan kaget jika mata anda merah sekali dan terlihat akar matanya. (akan hilang dalam 10 menit saja). Rasakan setelah itu, penglihatan anda tampak cerah dan bening. tujuannya untuk memperlancar peredaran darah di sekitar mata sehingga obat terserap rata. Untuk hasil maksimal, gunakan setiap hari, sehari dua kali yaitu pagi dan malam.

B. Kandungan Kitolod
Mengandung senyawa alkaloid yaitu lobelin, lobelamin dan isotomin. Sifat Kimiawi: Tumbuhan ini kaya kandungan kimia yang sudah diketahui antara lain, Senyawa alkaloid yaitu lobelin, lobelamin dan isotomin. Daunnya mengandung alkoloid, saponin, flavonoid dan poliferol. Tanaman ini beracun, untuk setiap kali minum tidak boleh lebih dari 3 lembar daun.

C. Kelebihan kitolod
1. Mudah ditemukan di lingkungan kita,
2. Tidak membutuhkan biaya yang besar untuk meraciknya.
D. Kekurangan kitolod
1. Perih pada mata,
2. Mengandung racun apabila memakai lebih dari tiga bunga.

HASIL
1. Warna racikan : Hijau muda
2. Bau racikan : Bau khas tumbuhan
3. Lama tahan obat : Satu hari
Dalam penelitian ini penulis tidak mempraktekannya secara langsung, penulis hanya praktek membuat obat dan mencoba memakainya. Ini adalah hasil pengamatan dari dokter pada 7 responden santri Pondok Pesantren Annuqayah Latee II dan 3 responden luar Pesantren dapat diperoleh data tentang manfaat tananman kitolod terhadap mata dan pengaruh yang dirasa saat menggunakan tanaman kitolod diantaranya sebagai berikut.
1. 30% responden menyatakan tanaman kitolod sangat bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit mata. Pengguna merasa perih dan sakit saat penggunakan tanaman kitolod sebagai obat mata.
2. 40% responden menyatakan menyatakan tanaman kitolod sangat bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit mata. Pengguna merasa seperti ditusuk dan gatal.
3. 30 % responden menyatakan menyatakan tanaman kitolod sangat bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit mata. pengguna merasa perih, gatal dan terasa sakit
Besarnya khasiat tanaman ini sudah dibuktikan pula oleh Sri Mastuti, owner Herb Aini Drops, berawal dari anggota keluarganya yang pernah menderita gangguan mata yang sulit disembuhkan. Pada tahur 1998, Dra Hj NE Rosyitawati yang berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah dasar negeri di Cakung, Jakarta Timur, merasakan matanya sering pedih dan gatal. Menurut dokter, hal ini disebabkan kurangnya, produksi air mata atau lebih dikenal dengan istilah mata kering. Selama dua tahun mencoba berbagai macam pengobatan medis, sampai akhirnya ia memeriksakan diri ke salah satu rumah sakit mata di Bandung. Hasilnya memang membaik namun tidak sembuh secara total.
Karena tak kunjung sehat, ia pun membuat ramuan sendiri dengan menggunakan kitolod. Sebelumnya ia telah membaca beberapa buku dan mengetahui khasiat dari tanaman yang bernama ilmiah Isotoma longiflora atau Laurentia longiflora ini dan memberanikan diri untuk bereksperimen demi mendapatkan pengalaman empirik. Kurang lebih dua minggu, matanya terasa membaik. Keluhan mata merah, pedih bahkan buram mulai berkurang. Setelah check up, hasilnya cukup menakjubkan, ia harus mengganti kaca matanya dari minus (-) 21/2 dan plus (+) 21/2 menjadi minus (-) 1 dan plus (+) 1.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar