TANAMAN KITOLOD
Tanaman Kitolod bukan termasuk tanaman langka. Kitolod tanpa disadari
banyak tumbuh di sekitar kita tepatnya lebih banyak di pinggir selokan. Tanaman
kitolod ini berkhasiat menyembuhkan sakit mata sejenis katarak, tumor mata,
mata minus. Kitolod mempunyai beberapa nama yaitu sebagai berikut :
Nama asing :Star
of betleham,Madam fate,Star flower
Nama ilmiah
:Isotoma Longiflora atau Laurentina longi flora
Nama lainnya
:Tolod,Kendali,Sangkong dan kerenjat.

B. Ciri – ciri tanaman kitolod
Dalam sejarah konon kitolod berasal dari benua Amerika
yaitu, Amerika Serikat dan Amerika Selatan. Kitolod termasuk dalam family
campanulaceae yang merupakan semak belukar atau tanaman berukuran kecil.
Tanaman ini terdiri dari 60 – 70 genus dan sekitar 2000 spesies. Dibawah ini
beberapa ciri – ciri tanaman kitolod.
1. Tinggi tanaman 50 cm
2. Batangnya bulat
3. Berkayu dan berwarna hijau
4. Daun berwarna hijau fan bergerigi
5. Merupakan daun tunggal
6. Lebar daun 2-3 cm
7. Panjang 5-15 cm
8. Bunga berbentuk lonceng dengan mahkota menyerupai bintang
bertajuk lima dan berwarna putih
9. Buah berbentuk lonceng dan berwarna jikau
10. Akar tanaman merupakan akar tunggang
C. Daerah Penyebaran Tanaman Kitolod
Tanaman yang berasal dari Hindia Barat ini tumbuh liar di
pinggir saluran air atau sungai, pematang sawah, sekitar pagar dan
tempat-tempat lainnya yang lembab dan terbuka. Kitolod dapat ditemukan dari
dataran rendah sampai 1.100 m dpl. Terna tegak, tinggi mencapai 60 cm,
bercabang dari pangkalnya, bergetah putih yang rasanya tajam dan mengandung
racun. Daun tunggal, duduk, bentuknya lanset, permukaan kasar, ujung runcing,
pangkal menyempit, tepi melekuk ke dalam, bergigi sampai melekuk menyirip,
Panjang daun 5-17 cm, lebar 2-3 cm, warnanya hijau, Bunganya tegak, tunggal,
keluar dari ketiak daun, bertangkai panjang, mahkota berbentuk bintang berwarna
putih. Buahnya berupa buah kotak berbentuk lonceng, merunduk, merekah menjadi
dua ruang, berbiji banyak. Perbanyakan dengan biji, stek batang atau anakan.
D. Budidaya Kitolod
Sebelum kita memanfaatkan kitolod kita perlu mengetahui
bagaimana cara pembudidayaannya. Tanaman ini sering terlihat diselokan atau
tempat lembab lainnya. Terkesan sebagai tanaman yang tidak berguna. Kitolod ini
sangat berkhasiat untuk penyembuhan gangguan mata rabun, katarak, minus dan
plus Secara ilmiah tanaman ini mempunyai nama ilmiah Isotoma longiflora atau
Laurentia longiflora. Tanaman yang berasal dari Hindia Barat ini tumbuh liar di
pinggir saluran air atau sungai, pematang sawah, sekitar pagar dan
tempat-tempat lainnya yang lembab dan terbuka.
Kitolod dapat ditemukan dari dataran rendah sampai 1.100 m
dpl. Terna tegak, tinggi mencapai 60 cm, bercabang dari pangkalnya, bergetah
putih yang rasanya tajam dan mengandung racun. Daun tunggal, duduk, bentuknya
lanset, permukaan kasar, ujung runcing, pangkal menyempit, tepi melekuk ke
dalam, bergigi sampai melekuk menyirip. Panjang daun 5-17 cm, lebar 2-3 cm,
warnanya hijau. Bunganya tegak, tunggal, keluar dari ketiak daun, bertangkai
panjang, mahkota berbentuk bintang berwarna putih. Buahnya berupa buah kotak
berbentuk lonceng, merunduk, merekah menjadi dua ruang, berbiji banyak.
Perbanyakan dengan biji, stek batang atau anakan.
METODOLOGI
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Proses peracikan obat mata dari tanaman kitolod dilaksanakan
di rumah penulis. Waktu pelaksanaanya pada bulan Februari 2012.
B. Bahan dan Alat
1. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
a. Bunga Kitolod.
Dalam pengertian ini bunga kitolod adalah bahan baku
pembuatan obat mata.
b. Air
Air digunakan untuk mengencerkan getah bunga.
2. Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
a. Mangkok atau gelas
b. Sendok makan
C. Proses Pembuatan
Tabel pembuatan
Langkah-langkah meracik obat mata menggunakan kitolod:
1. Pemilihan bunga
Bunga yang digunakan dalam pengobatan adalah bunga yang
masih segar dan belum lama dipetik. Cabut bunganya sampai pangkal akarnya,
karena di dalam tangkainya banyak mengandung getah.
2. Pencucian
Bunga yang baru dipetik harus dicuci dahulu, ini supaya
bunga terhindar dari hewan yang masuk di dalam bunga. Pencucian membutuhkan
waktu kurang lebih 15 menit .
3. Penghalusan
Pada proses ini, bunga kitolod yang sudah bersih akan
dihaluskan sampai lembut. Penulis memanfaatkan alat yang sederhana agar
masyarakat mudah untuk memahami dan mengikutinya. Penghalusan dilakukan
menggunakan sendok makan.
4. Pencampuran
Bunga kitolod yang sudah dihaluskan harus dicampur dengan
air hangat. Campur racikan menggunakan lepeh atau mangkok kecil. Setelah
dicampur, racikan itu didiamkan sampai air terasa dingin.
5. Penyaringan
Penyaringan bertujuan untuk memisahkan sari bunga kitolod
dengan ampasnya. Racikan yang sudah dibiarkan sampai dingin, sudah siap untuk
disaring.
Langkah ini merupakan cara yang sederhana untuk menguji
khasiat dari ramuan obat tersebut. Selain bertujuan untuk menguji khasiat dari
ramuan obat tersebut, langkah ini diharapkan dapat diikuti oleh masyarakat
untuk memanfaatkan obat alami dalam menyembuhkan penyakit dan tidak tergantung
pada obat-obatan yang berbau kimia.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pengujian
Pengujian ini dilakukan untuk menguji seberapa ampuh ramuan
yang terbuat dari bunga kitolod untuk menyembuhkan penyakit mata. Maka, penulis
ingin menguji keampuhan obat tradisional ini.
Dalam pengujian ini bahan yang digunakan berupa bunga
kitolod dan air. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pembaca menggunakanya.
Adapun langkah-langkah pengujian obat tersebut adalah:Teteskan satu kali pada
mata kiri dan kanan. Biasanya akan terasa perih, merah dan sesekali akan
mengeluarkan air mata.Setelah itu mata dikedip-kedipkan dan diurut perlahan
dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah. Dimulai dari ujung mata atau
sudut luar mata ke arah telinga atau pelipis.
Perlu diperhatikan, celupan pertama pada mata rasanya agak
perih. Setelah selesai tetesan mata yang ke tiga kali-nya (masing-masing mata).
Segera mengaca. Jangan kaget jika mata anda merah sekali dan terlihat akar
matanya. (akan hilang dalam 10 menit saja). Rasakan setelah itu, penglihatan
anda tampak cerah dan bening. tujuannya untuk memperlancar peredaran darah di
sekitar mata sehingga obat terserap rata. Untuk hasil maksimal, gunakan setiap
hari, sehari dua kali yaitu pagi dan malam.
B. Kandungan Kitolod
Mengandung senyawa alkaloid yaitu lobelin, lobelamin dan
isotomin. Sifat Kimiawi: Tumbuhan ini kaya kandungan kimia yang sudah diketahui
antara lain, Senyawa alkaloid yaitu lobelin, lobelamin dan isotomin. Daunnya
mengandung alkoloid, saponin, flavonoid dan poliferol. Tanaman ini beracun,
untuk setiap kali minum tidak boleh lebih dari 3 lembar daun.
C. Kelebihan kitolod
1. Mudah ditemukan di lingkungan kita,
2. Tidak membutuhkan biaya yang besar untuk meraciknya.
D. Kekurangan kitolod
1. Perih pada mata,
2. Mengandung racun apabila memakai lebih dari tiga bunga.
HASIL
1. Warna racikan : Hijau muda
2. Bau racikan : Bau khas tumbuhan
3. Lama tahan obat : Satu hari
Dalam penelitian ini penulis tidak mempraktekannya secara
langsung, penulis hanya praktek membuat obat dan mencoba memakainya. Ini adalah
hasil pengamatan dari dokter pada 7 responden santri Pondok Pesantren Annuqayah
Latee II dan 3 responden luar Pesantren dapat diperoleh data tentang manfaat
tananman kitolod terhadap mata dan pengaruh yang dirasa saat menggunakan
tanaman kitolod diantaranya sebagai berikut.
1. 30% responden menyatakan tanaman kitolod sangat
bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit mata. Pengguna merasa perih dan sakit
saat penggunakan tanaman kitolod sebagai obat mata.
2. 40% responden menyatakan menyatakan tanaman kitolod
sangat bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit mata. Pengguna merasa seperti
ditusuk dan gatal.
3. 30 % responden menyatakan menyatakan tanaman kitolod
sangat bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit mata. pengguna merasa perih,
gatal dan terasa sakit
Besarnya khasiat tanaman ini sudah dibuktikan pula oleh Sri
Mastuti, owner Herb Aini Drops, berawal dari anggota keluarganya yang pernah
menderita gangguan mata yang sulit disembuhkan. Pada tahur 1998, Dra Hj NE
Rosyitawati yang berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah dasar negeri di
Cakung, Jakarta Timur, merasakan matanya sering pedih dan gatal. Menurut
dokter, hal ini disebabkan kurangnya, produksi air mata atau lebih dikenal
dengan istilah mata kering. Selama dua tahun mencoba berbagai macam pengobatan
medis, sampai akhirnya ia memeriksakan diri ke salah satu rumah sakit mata di
Bandung. Hasilnya memang membaik namun tidak sembuh secara total.
Karena tak kunjung sehat, ia pun membuat ramuan sendiri
dengan menggunakan kitolod. Sebelumnya ia telah membaca beberapa buku dan
mengetahui khasiat dari tanaman yang bernama ilmiah Isotoma longiflora atau
Laurentia longiflora ini dan memberanikan diri untuk bereksperimen demi
mendapatkan pengalaman empirik. Kurang lebih dua minggu, matanya terasa
membaik. Keluhan mata merah, pedih bahkan buram mulai berkurang. Setelah check
up, hasilnya cukup menakjubkan, ia harus mengganti kaca matanya dari minus (-)
21/2 dan plus (+) 21/2 menjadi minus (-) 1 dan plus (+) 1.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar